DPPP Gandeng UBB Hitung Kesejahteraan Nelayan Basel

Toboali - Dinas Pertanian Pangan Perikanan Kabupaten Bangka Selatan (Basel) pada tahun 2018 ini bekerja sama dengan Pusat Kajian Sumberdaya Perairan dan Pulau-Pulau Kecil Universitas Bangka Belitung untuk melakukan kajian dan penghitungan tentang kesejahteraan Nelayan dan Pembudidaya Ikan. Untuk mengukur hal tersebut, ada sebuah indeks yang lebih dikenal dengan Nilai Tukar. 

Secara umum, nilai tukar nelayan (NTN) merupakan angka yang menunjukkan perbandingan antara indeks harga yang diterima nelayan (IT) dan indeks harga yang dibayar nelayan (IB). Begitu pula dengan Nilai Tukar Pembudidaya Ikan adalah perbandingam antara indeks pendapatan pembudidaya dan indeks pengeluaran pembudidaya ikan. 

Setelah melakukan pengumpulan data dilapangan bail melalui survey, kuisioner dan wawancara selama kurang lebih 2 bulan, Sabtu 3 November 2018 kemarin Tim dari Universitas Bangka Belitung menyampaikan laporannya di hadapan sekitar 30 orang peserta FGD yang diantaranya dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Perikanan, Kepala Bidang Perikanan, Para Camat di 8 Kecamatan, Perwakilan Nelayan, Penyuluh Perikanan dan unsur SKPD lain yang hadir.

Tim Kajian UBB yang dipimpin oleh Dr. Endang Bidayani menyampaikan beberapa temuan lapangan terkait kesejahteraan nelayan dan pembudidaya ikan di Bangka Selatan. Di antara temuan mereka adalah bahwa terjadi gap yang amat jauh antara musim ketika ikan melimpah dan ketika musim paceklik (baik karena cuaca dll). 

Sayangnya, besarnya hasil di kala musim melimpahnya ikan tidak dibarengi dengan manajemen keuangan yg baik di kalagan para nelayan. Imbasnya, jika dirata-ratakan selama 1 tahun, nilai tukar nelayan di Bangka Selatan sementara ini ada di kisaran angka 108. 

Artinya, pendapatan nelayan baru sedikit lebih banyak dibandingkan pengeluaran mereka. Adapun untuk pembudidaya ikan, belum banyak pembudidaya di Bangka Selatan yang menjadikan sektor ini sebagai sektor utama pekerjaannya. Dari beberapa pembudidaya yang sudah menekuni secara serius usaha mereka didapatkan Indeks Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) di bawah 100. Artinya, masih lebih besar pengeluaran dibandingkan pendapatan. Angka pengeluaran terbesar adalah pada penyediaan pakan. 

Usaha budidaya ikan yang nilai indeks NTPinya di atas 100 adalah budidaya ikan kerapu. Hasil kajian ini diapresiasi dengan baik oleh drh. Suhadi, MM selaku kepala dinas Pertanian, Pangan, Perikanan dan selanjutnya akan dijadikan sebagai salah satu basis data penyusunan strategi dan intervensi kebijakan yang diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan dan pelaku usaha perikanan lainnya di Kabupaten Bangka Selatan. Terlebih hasil kajian dari UBB ini cukup komprehensif memetakan kesejahteraan nelayaan berdasarkan jenis alat tangkap yang digunakan, jenis kepemilikan kapal dan lokasi per kecamatan. Begitu juga budidaya ikan yang sudah dikaji perkomoditas jenis ikan yang dibudidayakan. 

Setelah pemaparan hasil penelitian dilanjutkan dengan diskusi dan tanggapan dari peserta FGD yang hadir. Cukup banyak tanggapan yang disampaikan utamanya oleh para camat dan SKPD terkait. (TIM PPID) 

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Tim PPID
Fotografer: 
TIM PPID
Editor: 
Edo Lebiro | Neneng Nurlela
Bidang Informasi: 
Kominfo