Belajar, Belajar, dan Teruslah Belajar

Toboali - Belajar, belajar, dan teruslah belajar tanpa henti. Pernyataan itu selaras dengan hadits “Uthlubul ‘ilma minal mahdi ilal lahdi” yang artinya “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat”.  Hadits tersebut menjadi dasar dari ungkapan “Long life education” atau pendidikan seumur hidup. Kehidupan di dunia ini rupanya tidak sepi dari kegiatan belajar, sejak mulai lahir sampai hidup ini berakhir.

Saya selalu tertarik dan merasa tertantang untuk menguji kemampuan dan kompetensi saya dalam proses pembelajaran dengan mengikuti berbagai lomba. Hal ini saya tujukan sebagai sarana untuk lebih meningkatkan pemahaman dan kemampuan saya dalam mengajar. Bersumber dari berbagai informasi yang saya dengar dari rekan kerja sesama pendidik yang menceritakan adanya lomba Guru Berprestasi (Gupres), maka saya tertarik untuk mengikuti lomba tersebut pada tahun 2017. Pada tahun itu saya berusaha menyiapkan diri semaksimal mungkin hingga berhasil mendapat juara 2 tingkat provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Alhamdulillaah, walaupun, belum berhasil lolos ke tingkat nasional tetapi semangat dan motivasi tetap bergelora agar tahun selanjutnya bisa mewakili Bangka Belitung ke tingkat nasional. Pada tahun 2018 saya mencoba berpartisipasi lagi dalam lomba Guru berprestasi. Sebelumnya saya sudah menyiapkan diri dengan berkarya menyusun beberapa buku. Di antaranya; Ringkasan Materi USBN SD/MI Bahasa Indonesia 2018; Ringkasan Materi Pidato, Puisi, Pantun, dan Syair; Ringkasan Materi Matematika SD, ABAI (Asyik Belajar Aktif, Inonvatif) Pribahasa, Ungkapan, Sinonim, dan Antonim. Selain itu, saya pun melakukan beberapa Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dan tidak kalah menarik, saya pun terpilih menjadi Instruktur Nasional (IN) guru pembelajar kelas tinggi Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) melalui tes Uji Kompetensi Guru (UKG) online.  Alhamdulillah, akhirnya pada tahun tersebut saya berhasil meraih juara 1 Guru Berprestasi tingkat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sehingga bisa mewakili Bangka Belitung ke tingkat nasional. 

Hingga suatu hari, tepatnya Senin, 11 Januari 2019 saya menerima telepon dari salah satu staf Direktorat Pembinaan Guru Dikdas yang menyatakan bahwa akan diadakan program kegiatan “1000 Guru Pelatihan ke Luar Negeri”. Beberapa hari kemudian, saya mendapatkan informasi bahwa terpilih menjadi peserta pelatihan guru keluar negeri tersebut dengan tujuan pelatihannya adalah ke Negara Cina. Alhamdulillah, ucapan syukur saya ucapkan kepada Allah SWT atas nikmat yang luar biasa ini. Mimpi yang selama ini saya inginkan untuk dapat keluar negeri melalui jalur guru berprestasi dapat terwujud. Langsung seketika saya teringat dengan pribahasa “Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Cina”.

Kegiatan pelatihan ke luar negeri ini dilaksanakan melalui 3 tahapan, yaitu; 1) predeparture, yang dimulai dari 27 Februari - 2 Maret 2019; 2) Departure, 3 - 23 Maret 2019; 3) Post Departure, 24 - 26 Maret 2019. Kegiatan awal dimulai dengan acara pembukaan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI,oleh Bapak Dr. Muhajir Effendi, M.AP, dilanjutkan pembekalan materi selama 3 hari di Jakarta. Pada 3 Maret 2019, kami berangkat ke Cina dengan jumlah 50 orang guru SD dan SMP sebagai utusan Direktorat Pembinaan Guru Dikdas, serta 2 orang dari staf Kemdikbud dan seorang Direktur Pembinaan Guru Dikdas.

Di Negara Cina, Kami menuju ke sebuah universitas yang sangat terkenal, yaitu Cina University of Mining and Technology atau yang sering dikenal dengan sebutan CUMT. CUMT terletak di Provinsi Jiangsu, Kota Xuzhou, sebuah kota yang merupakan pusat pendidikannya di negeri Cina. Secara umum, kegiatan pelatihan terbagi menjadi 3 bagian yaitu: pelatihan di universitas, kunjungan ke lembaga sekolah, dan kunjungan kebudayaan ke situs-situs bersejarah.

Pertama, pada saat pelatihan di universitas, kami menerima ilmu yang berkaitan dengan pendidikan. Berbagai narasumber dihadirkan untuk membagikan ilmu kepada kami. Ilmu tentang (Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) dan Higher Order Thinking Skill (HOTS) banyak kami dapatkan dari kuliah umum maupun pengamatan langsung di kampus. Konsep STEM & HOTS merupakan hal yang wajib dilaksanakan di dunia pendidikan untuk menghadapi abad 21 era Revolusi 4.0. Kebutuhan dan kesadaran akan tuntutan zaman, membuat negara Cina harus bisa menyesuaikan sistem pendidikannya agar bisa menjadi sebuah negara yang maju. Keterampilan berpikir tingkat tinggi yang diterapkan di Cina dengan berbasis kemajuan Information and Comunication Technology (ICT). ICT dimanfaatkan untuk mendorong anak untuk berpikir tingkat tinggi. Selain di CUMT, kami juga diberi kesempatan untuk menimba ilmu di Jiangsu Vocational Institute of Architectural Technology, salah satu kampus yang berbasis kejuruan. 

Pendidikan vokasi atau kejuruan di Cina menganut 3 prinsip, yaitu student-centered (berpusat pada siswa), diversity (keanekaragaman) dan similarity (hak yang sama untuk penyandang disabilitas). Selain itu, pendidikan kejuruan di Cina menggunakan beberapa tingkat dalam proses pembelajarannya. Tingkat sekolah menengah, pendidikan difokuskan untuk menumbuhkan kebiasaan positif dan menanamkan pengetahuan yang luas. Sedangkan pada tingkat pendidikan tinggi berfokus pada pengembangan dan inovasi. Salah satu narasumber yang bernama Yuan Jingyu, Ph.D yang merupakan Direktur dari CUMT menjelaskan bahwa pendidikan kejuruan di Cina sudah dimulai dari ratusan tahun yang lalu, tepatnya sejak masa Dinasti Ching. Pada awalnya mengadopsi pendidikan dari bangsa-bangsa Eropa seperti Prancis, Jerman, dan Rusia (Uni Soviet). Pendidikan kejuruan pada mulanya baru dapat menghasilkan produk-produk sederhana seperti pembuatan kancing dan paku. Pada tahun 1978, Cina mulai menghasilkan produk dengan konsep dan ciri khas sendiri. Saat ini pendidikan kejuruan di Cina telah diadopsi oleh banyak negara. Salah satunya adalah Inggris.

Kedua, kegiatan dilakukan dengan cara kunjungan ke sekolah-sekolah. Ada 3 sekolah yang kami kunjungi, yaitu jenjang SD, SMP, dan SMA. Salah satunya adalah Wang Jie Xiao Xue Shao Nian Xue (Primary School) adalah sekolah dasar yang kami kunjungi. Di Sekolah-sekolah tersebut kami diberi kesempatan secara langsung untuk melihat proses pembelajaran dengan berbagai model pembelajaran aktif, salah satunya adalah pembelajaran Problem Based Learning dan Inkuiri Learning. Belajar bagaimana menciptakan suasana pembelajaran yang aktif dan menyenangkan bagi siswa, bagaimana kita mampu menghasilkan pembelajaran HOTS yang mampu membangkitkan gairah belajar siswa. Misalnya dari sebuah puisi dalam pelajaran bahasa, akan tercipta pembelajaran yang menuntut siswa berpikir HOTS, dengan membuat pertanyaan, membuat kalimat penjelasan makna dari sebuah puisi tersebut, mempraktikkan membaca puisi tersebut, dan mengeksplor diri siswa. Setiap ruang kelas telah menggunakan papan layar sentuh (Touchscreen). Guru merancang pembelajaran dengan memanfaatkan permainan digital yang berisi konsep pelajaran. Di lain kesempatan, kami juga diajak untuk mengunjungi Xuzhou Technological Innovation Center (Secondary School), yaitu sekolah menengah pertama yang mempelajari tentang aplikasi pemrograman dasar dan mengkonstruksi robot di sekolah-sekolah kota Xuzhou. Edukasi yang diberikan oleh perusahaan ini berlatar belakang Science Technology Engineering Math (STEM) yang didasari oleh inovasi teknologi.

Ketiga, kegiatan visitasi kebudayaan. Ada beberapa tempat budaya yang kami kunjungi selama di Negara Cina. Salah satu tempat yang menarik bagi saya adalah mengunjungi situs Confusius, yaitu salah seorang filsuf dari Negera Cina yang terkenal dengan pernyataannya yaitu “Yang saya Dengar, saya Lupa;  Yang saya lihat, saya ingat; Yang saya kerjakan saya pahami”. Selanjutnya kunjungan ke Kuil Confucius di Kota Qufu yang merupakan kuil yang terbesar dan paling terkenal di daerah Asia Timur. Sejak tahun 1994, Kuil Confucius ini telah menjadi bagian dari tempat bersejarah dunia UNESCO. 

Setelah kegiatan pelatihan ini berakhir, kami diberikan kesempatan untuk mengunjungi salah satu dari 7 Keajaiban Dunia, yaitu Great Wall Cina (Tembok Besar Cina). Tembok pertahanan dari Bangsa Mongol ini dibangun sepanjang 8.851 km mengikuti bentuk pegunungan Tiongkok Utara. The Great Wall Cina dikonstruksikan pada Dinasti Qin, Dinasti Han, dan Dinasti Ming. 

Keesokan harinya, kami sempat mampir ke Kedutaan Besar Indonesia di Cina dan disambut hangat oleh seorang staf yang bertugas di kedutaan tersebut. Selanjutnya, kunjungan dilanjutkan ke  Forbidden City (Kota/Istana Terlarang) yang terletak di tengah-tengah Kota Beijing. Forbidden City merupakan istana kerajaan pada masa dinasti Ming dan Dinasti Qing. Istana ini memiliki luas 720.000 m2, 800 bangunan dan 8000 ruangan.

Pada akhirnya, dari berbagai rangkaian kegiatan di Cina, banyak ilmu dan pengalaman yang menarik saya peroleh. Semoga dapat bermanfaat. Aamiin…..

Hasil dari pelatihan “1000 Guru Pelatihan ke Luar Negeri” telah saya sampaikan secara langsung kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bangka Selatan. Menurut PLt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bangka Selatan, Bapak Ramdani, “Prestasi ini merupakan pencapaian yang sangat luar biasa dan patut untuk diteladani. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama.” Beliau sangat mengapresiasi prestasi ini dan berharap prestasi ini dapat ditingkatkan. Beliau pun berpesan agar ilmu yang diperoleh dapat bermanfaat bagi siswa, guru, dan dunia pendidikan pada umumnya. Terakhir beliau berpesan pertahankan prestasi ini, karena mempertahankan lebih sulit daripada meraihnya. 

 

Penulis: 
Rusbeto, S. Pd. SD (SD Negeri 16 Toboali)
Sumber: 
Dinas Kominfo